Teman Ingin Pinjam Nama Untuk Kredit, Mesti Gimana?

Ketika seorang teman atau kerabat ingin pinjam nama Anda untuk mengajukan kredit, mungkin Anda merasa sungkan untuk menolak. Mungkin Anda juga berpikir hal itu adalah bantuan alternatif yang bisa Anda berikan karena Anda tidak punya cukup uang untuk dipinjamkan.

Namun, sebelum Anda meminjamkan nama untuk pengajuan kredit teman atau kerabat, pastikan Anda sudah mengetahui risiko yang mungkin Anda hadapi.

Apa yang dimaksud dengan meminjamkan nama untuk kredit?

Meminjamkan nama untuk kredit berarti identitas serta informasi keuangan dan kredit Anda Anda dipakai orang lain untuk mengajukan kredit. Termasuk di antaranya adalah KTP & foto diri, agunan atas nama Anda, alamat tempat tinggal, nama & alamat kantor, nomor handphone, kontak darurat, slip gaji, dan riwayat kredit. 

Hal ini berarti Anda bertanggung jawab secara hukum atas kredit tersebut apabila terjadi sesuatu yang tidak diharapkan. Jadi, teman atau kerabat Anda yang menerima kredit tersebut tetapi Anda yang bertanggung jawab.

Mengapa orang perlu pinjam nama untuk kredit?

Kebanyakan orang meminjam nama untuk kredit karena nama mereka sendiri tidak memenuhi syarat untuk mendapatkan pinjaman. Biasanya, penyebabnya adalah riwayat kredit yang kurang baik, minim atau tidak punya penghasilan, rasio utang terhadap pendapatan (DTI / debt-to-income) yang tinggi, tidak memiliki agunan yang nilainya cukup, dll.

Jadi, orang tersebut harus mencari bantuan dari orang lain dengan profil keuangan dan riwayat kredit yang lebih baik.

Risiko meminjamkan nama untuk kredit orang lain

Meminjamkan nama untuk pengajuan kredit orang lain mempunyai berbagai risiko yang perlu Anda pertimbangkan secara matang.

1. Anda bertanggung jawab secara hukum atas kredit tersebut

Apabila teman atau kerabat Anda terlambat membayar angsuran, maka pihak kreditur dan debt collector akan menagih kepada Anda dan kontak darurat Anda. Selain itu, riwayat kredit Anda juga menjadi kurang baik.

Apabila terjadi gagal bayar, maka agunan atas nama Anda dapat disita/ditarik. Riwayat kredit Anda juga menjadi semakin buruk.

Tapi jika Anda memang berniat untuk membantu dan merelakan nama Anda dipinjam, maka pastikan Anda dapat menalangi pembayaran jika terjadi keterlambatan atau gagal bayar.

2. Kredit tersebut muncul di riwayat kredit Anda

Karena menggunakan identitas Anda, maka utang tersebut akan muncul di riwayat kredit Anda seolah-olah Anda sendiri yang mengajukan pinjaman. Hal ini dapat mempengaruhi peluang Anda mendapatkan pinjaman untuk kebutuhan Anda sendiri. Sebabnya, mengajukan pinjaman baru sewaktu masih ada pinjaman berjalan meningkatkan rasio utang terhadap pendapatan (DTI).

Ini adalah faktor kunci bagi kreditur dalam mengevaluasi apakah mereka akan menyetujui pengajuan kredit atau tidak.

3. Mustahil mengalihkan pinjaman

Jika terjadi masalah terkait pinjaman, seperti terlambat atau gagal bayar, penyitaan atau penarikan agunan, maka mustahil bagi Anda untuk mengalihkan pinjaman tersebut.

Anda bisa saja bercerita panjang lebar kepada kreditur bagaimana Anda meminjamkan nama untuk dipakai, dan meminta kreditur untuk mengalihkan pinjaman tersebut kepada teman atau kerabat Anda yang merupakan peminjam sebenarnya. Tetapi kreditur hanya akan berpatok pada kontrak dan perjanjian kredit yang sudah Anda tanda tangani atas nama Anda sendiri.

4. Menambah masalah keuangan

Mungkin awalnya teman atau kerabat Anda melakukan pembayaran dengan baik dan tepat waktu. Namun, kondisi finansial seseorang dapat berubah kapan saja; misalnya usaha bangkrut, terkena PHK, anggota keluarga sakit keras atau meninggal dunia, dll. Dengan demikian, masalah keuangan yang tadinya bukan masalah Anda, kini menjadi tanggung jawab Anda.

Bahkan dalam kondisi terbaik pun, sifat hubungan Anda dengan si peminjam akan berubah dari yang tadinya setara menjadi lebih rendah. Anda menjadi terikat dengan orang tersebut, dan baik/buruknya riwayat kredit Anda bergantung pada lunas/tidaknya kredit yang diajukan atas nama Anda.

Jadi sebelum meminjamkan nama Anda untuk pengajuan kredit, pastikan teman atau kerabat Anda punya kesadaran untuk membayar angsuran. Jangan sampai Anda yang jungkir-balik bayar tagihan, tapi teman Anda bersantai liburan dan jalan-jalan.

Apa yang harus dilakukan jika teman ingin pinjam nama untuk kredit?

1. Siap dengan risiko

Apabila setelah mengetahui berbagai risiko di atas Anda tetap ingin membantu teman atau kerabat, maka Anda harus siap dengan dana cadangan untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan. Sebaiknya Anda juga berdiskusi dengan anggota keluarga terlebih dahulu.

2. Kepemilikan sebaiknya atas nama Anda

Kepemilikan dan tanggung jawab kredit adalah 2 hal yang berbeda. Hal ini krusial untuk kredit dengan agunan, seperti KPR atau kredit kendaraan bermotor. Jadi, jika Anda tetap ingin membantu teman atau kerabat, sebaiknya nama yang tertera di SHM, BPKB, dan STNK adalah nama Anda. Ini akan mempermudah Anda mengambil alih kendaraan atau rumah yang dipakai jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Setelah kredit tersebut lunas, baru Anda urus untuk balik nama.

3. Tolak dengan baik-baik

Apabila Anda tidak ingin risiko-risiko di atas terjadi, maka sampaikan penolakan Anda dengan baik-baik. Beritahu risiko yang mungkin Anda hadapi dan jangan termakan dengan janji-janji manis bahwa orang tersebut akan dapat melunasi. Realita bahwa dia tidak dipercaya kreditur untuk pengajuan atas namanya sendiri sudah cukup menjadi bukti bahwa kemungkinan besar dia tidak akan sanggup melunasi kreditnya.

4. Berikan alternatif

Jika Anda tidak ingin meminjamkan nama untuk pengajuan kredit dan tidak punya uang tunai yang cukup untuk dipinjamkan, maka Anda bisa mengarahkan teman atau kerabat Anda untuk menyelesaikan masalah utangnya terlebih dahulu bersama amalan.

Seperti yang sempat dibahas di atas, orang meminjam nama Anda karena namanya sendiri mungkin ditolak saat mengajukan kredit. Biasanya, penyebab penolakan kredit adalah riwayat kredit yang buruk, rasio utang terhadap pendapatan (DTI / debt-to-income) yang tinggi, serta adanya pinjaman yang masih berjalan dan belum lunas.

Penutup

amalan adalah satu-satunya perusahaan manajemen utang di Indonesia yang tercatat di OJK. Sejak 2015, kami sudah membantu ribuan orang yang terlilit utang dengan total utang lebih dari Rp60 milyar. Secara profesional kami dapat membantu meringankan beban utang agar klien dapat melunasi utangnya dengan lebih cepat, mudah, dan hemat. Normalnya, klien kami mendapatkan diskon 50% untuk penyelesaian utang.

Selain keringanan utang, amalan juga mempunyai berbagai layanan top lainnya, seperti pengecekan dan koreksi SLIK (riwayat kredit), perlindungan dari penagihan debt collector tak beretika, serta dukungan profesional selama proses penyelesaian utang berlangsung.

Setelah menyelesaikan masalah utang bersama amalan, maka riwayat kredit teman atau kerabat Anda akan pelan-pelan membaik sehingga bisa mengajukan kredit atas namanya sendiri.

3 Cara Membantu Orang yang Terlilit Utang Tanpa Memberi Uang

Teman Anda ingin melunasi utang tapi tidak punya uang? Lalu dia meminta bantuan Anda. Apa yang harus Anda lakukan?

Jika Anda kebetulan mengetahui seorang teman, anggota keluarga, atau orang terdekat Anda terlilit utang, mungkin naluri pertama Anda adalah membantu mereka dengan cara memberi uang. Tetapi cara tersebut hanya sedikit membantu, dan tidak cukup untuk menyelesaikan masalah utang secara jangka panjang.

Ada 3 cara yang bisa Anda lakukan untuk membantu seseorang yang terlilit utang tanpa harus mengeluarkan uang. Selain menyelesaikan masalah utang, 3 cara ini juga akan mengubah kondisi finansial orang tersebut menjadi lebih baik.

Cara Mengetahui Orang yang Terlilit Utang

Situasinya akan jauh lebih baik jika teman, anggota keluarga, atau orang terdekat Anda bercerita langsung dan terbuka mengenai kondisi utangnya. Tetapi umumnya, orang yang terlilit utang tidak akan bercerita karena menganggap utang adalah aib yang tidak pantas untuk dibicarakan.

Meskipun demikian, masih ada ciri-ciri untuk mengetahui apakah seseorang terlilit utang atau tidak. Jika ada banyak ciri-ciri di bawah ini Anda temukan pada seseorang, maka orang tersebut kemungkinan besar sedang terlilit utang.

  1. Sering meminjam uang tapi tidak mengembalikan
  2. Tidak malu untuk meminjam uang pada orang yang baru dikenal
  3. Tidak malu untuk meminjam uang meski belum melunasi utang yang lama
  4. Tertutup atau sensitif apabila membahas uang maupun utang
  5. Terlihat stress meskipun di hari gajian
  6. Mengalami perubahan sifat menjadi lebih pendiam, suka menyendiri, atau marah
  7. Suka menghayal durian runtuh / rejeki nomplok
  8. Forsir tenaga untuk ambil pekerjaan tambahan, atau usaha sampingan guna tambah penghasilan

Cara Membantu Orang yang Terlilit Utang Tanpa Keluar Uang

1. Bersikap peka & jangan menghakimi

Tidak semua orang suka ditembak dengan pertanyaan “apakah kamu terlilit utang?” Sebagian justru akan tersinggung dan menghindari Anda.

Untuk orang yang mengalami perubahan sifat, seperti menjadi mudah stress, pendiam dan penyendiri, Anda bisa memulainya dengan “Akhir-akhir ini kamu tidak seperti biasanya. Apakah kamu sedang ada masalah? Apakah masalah kamu berkaitan dengan keuangan?

Tidak ada jaminan orang tersebut akan langsung terbuka mengenai masalah utangnya pada Anda. Tapi itu adalah awal yang bagus, dan Anda bisa mencari celah dari situ atau mencobanya kembali di lain waktu.

Satu hal yang penting, orang yang sedang terlilit utang tidak membutuhkan penghakiman dari Anda. Jadi, jangan menghakimi bahwa apa yang sudah dia lakukan itu salah. Lebih baik Anda menjadi pendengar yang baik ketika orang tersebut sudah mulai terbuka mengenai masalah utangnya.

Selain itu, mayoritas orang yang terlilit utang tidak ingin orang lain mengetahui kondisinya. Jadi, jagalah rahasia mereka dengan baik. Jika Anda yang sedang terlilit utang, Anda mungkin juga tidak ingin semua orang tahu masalah utang Anda.

2. Membantu menyusun anggaran

Umumnya, orang yang terlilit utang tidak punya perencanaan, anggaran, dan catatan keuangan yang baik. Akibatnya, mereka tidak tahu ke mana penghasilan mereka pergi, berapa utang yang mereka punya, atau berapa lama lagi utang mereka akan lunas.

Selain itu, meskipun seseorang sudah punya anggaran dan catatan keuangan, tapi tidak sedikit yang tidak bisa disiplin dalam mematuhi anggaran yang sudah ditetapkan atau mencatat cash flow yang masuk dan keluar. Hal ini sering terjadi untuk pengeluaran yang bersifat impulsif dan konsumtif.

Anda bisa mengajari mereka cara membuat perencanaan keuangan, menyusun anggaran, dan mencatat arus kas yang masuk dan keluar. Ada berbagai macam tips dan tutorial yang bisa Anda temukan di internet.

Selain itu, Anda juga bisa mengingatkan mereka untuk disiplin pada rencana dan anggaran yang sudah dibuat. Apabila hubungan Anda dengan orang tersebut cukup dekat, Anda bisa sesekali mengecek catatan keuangan harian mereka dan sedikit lebih bawel agar mereka tetap berada di jalur yang benar.

Anda juga bisa membantu mereka untuk menolak ajakan-ajakan yang bersifat konsumtif dan kurang perlu, seperti berwisata, shopping, atau makan-makan di pusat perbelanjaan. Apabila kebutuhan untuk bersenang-senang sudah tidak bisa dibendung lagi, Anda bisa mencari ide-ide alternatif lainnya yang bisa lebih menghemat pengeluaran.

3 Cara Membantu Orang yang Terlilit Utang Tanpa Memberi Uang_Temukan Jalan Menuju Bebas Masalah Utang

3. Mengarahkan mereka untuk mendapatkan bantuan profesional

Apabila Anda tidak punya cukup waktu untuk melakukan 2 hal di atas, Anda bisa mengarahkan mereka untuk mendapatkan bantuan profesional. Sebabnya, utang adalah sesuatu yang rumit dan tidak bisa diselesaikan dengan hanya memberikan uang untuk menutupi sebagian utang saja. 

Bantuan profesional yang dimaksud adalah bantuan perusahaan manajemen utang resmi yang dapat meringankan pelunasan utang orang terdekat Anda. 

Perusahaan manajemen utang bekerja dengan klien dan kreditur untuk meringankan pelunasan utang secara signifikan, baik melalui potongan/penghapusan bunga, potongan pada pokok utang, potongan/penghapusan denda & biaya lainnya, perpanjangan angsuran dengan bunga lebih rendah, dll.

Ketika semua pihak yang terlibat telah mencapai kesepakatan, maka klien (dalam hal ini, orang terdekat Anda) dapat melunasi utangnya dengan nominal lebih rendah dari total tagihan utang. amalan adalah satu-satunya perusahaan manajemen utang yang tercatat di OJK dan telah dipercaya oleh ribuan klien. Normalnya, klien amalan mendapatkan potongan 50% untuk pelunasan utang.

Selain keringanan pelunasan, amalan juga memberikan perlindungan kepada klien dari penagihan tak beretika yang dilakukan debt collector. Layanan perlindungan ini bernama amalanProtect, dan mempunyai rekor 100% keberhasilan dalam menghentikan penagihan yang tak beretika. Terdapat pula layanan amalanProtect Hotline Handling di mana klien dapat menyambungkan penagihan telepon dari debt collector kepada konsultan amalan.

Selain itu, masih ada lagi dukungan profesional dari konsultan yang sudah terlatih dalam manajemen utang dan pengelolaan keuangan. Orang terdekat Anda bisa mendapatkan saran dan solusi terbaik untuk setiap masalah utang yang dihadapi tanpa biaya tambahan (alias gratis).

Bagi orang yang sibuk dengan pekerjaan atau bisnis, amalan juga mempunyai layanan Secretary Service yang akan menangani segala bentuk komunikasi perbankan orang terdekat Anda dengan bank dan debt collector. Kami dapat menjawab telepon dan WhatsApp, serta menerima surat/laporan tagihan untuk klien kami.

Penutup

Jika orang terdekat Anda terlilit utang, maka ada 3 cara selain memberikan sejumlah uang. Terlilit utang biasanya disebabkan oleh pengelolaan keuangan yang kurang baik, atau hal-hal yang bersifat force majeurs seperti kehilangan pekerjaan, tulang punggung keluarga meninggal, anggota keluarga sakit keras, krisis atau resesi ekonomi, dll.

3 cara di atas adalah tindakan terbaik yang bisa Anda lakukan apabila Anda ingin membantu orang terdekat untuk keluar dari jerat utang. Bersama amalan, orang terdekat Anda akan dapat melunasi utang dengan nominal yang lebih rendah, belajar pengelolaan keuangan yang baik guna membangun fondasi keuangan yang kuat untuk masa depan.

Gen Z & Milenial Terlilit Utang Karena Media Sosial, Ini Solusinya!

Media sosial telah mengubah hidup generasi milenial menjadi penuh dengan perbandingan. Di zaman dulu, kita hanya perlu membandingkan diri kita dengan tetangga sebelah rumah, teman satu sekolah, atau mungkin dengan saudara kita. Tetapi sekarang, dengan media sosial, kita bisa melihat dan membandingkan kehidupan kita dengan orang-orang yang bahkan kita tidak kenal, yang sayangnya menjebak kita pada utang.

Jebakan Sosial dari Media Sosial Mengakibatkan Utang

Di media sosial, semua orang seolah-olah menjalani kehidupan yang sangat menyenangkan. Makan di tempat yang sedang viral, healing di pantai, jalan-jalan di pegunungan yang indah, shopping di mall, hangout di kafe nge-trend, dll. Sayangnya, apabila kita tergoda untuk mengikuti semua gaya hidup hedonisme seperti itu, kita akan kelelahan sendiri. Dan tentu saja ongkosnya juga mahal.

Faktanya, banyak generasi milenial yang mengalami kesulitan keuangan dalam upaya mereka mengikuti gaya hidup tertentu di media sosial. Dan yang lebih parah adalah selebgram yang harus terus menampilkan gaya hidup mewah untuk personal branding mereka. Tidak sedikit selebgram yang mengaku biaya hedon mereka lebih besar daripada nilai endorsement yang mereka terima.

Gen Z juga sedang terjebak situasi sosial yang sama. Masalah Gen Z adalah belum punya penghasilan karena mayoritas masih kuliah dan belum bekerja, sedangkan uang saku dari orang tua tidak mungkin bisa memenuhi gaya hidup tersebut.

Jebakan yang Merambah ke Ekonomi

Tetapi dengan kemajuan teknologi, banyak dari mereka yang mempunyai akun pay later di berbagai aplikasi online dan memaksimalkan limitnya. Sedangkan milenial yang sudah bekerja cenderung memaksimalkan limit kartu kredit.

Baik Gen Z maupun milenial biasanya menunda memikirkan pengelolaan keuangan jika sudah ter-trigger saat melihat postingan liburan, fashion, dan makanan yang beredar di media sosial. Terlebih lagi jika postingan tersebut viral, maka mereka akan merasa harus cepat-cepat tidak mau ketinggalan untuk mengikuti trend yang sedang viral tersebut karena sepertinya itulah yang sedang dilakukan semua orang.

Begitu selesai mengikuti itu semua, barulah mereka merasakan betapa banyaknya utang yang telah dihabiskan. Dengan pengetahuan finansial yang terbatas, biasanya milenial dan Gen Z akan mengambil pinjaman lagi untuk melunasi tagihan kartu kredit atau pay later mereka. Mereka menjadi target empuk pinjol dan gadai. Tentu saja, ini adalah sebuah siklus utang yang berbahaya.

Jebakan dari Circle Pertemanan yang Hedon

Bagi sebagian milenial dan Gen Z, jebakan utang bukan terjadi karena mengikuti gaya hidup hedonisme yang datang dari keinginan diri sendiri, tetapi dari circle pertemanan.

Misalnya, sohib atau bestie Anda mengajak liburan rame-rame ke luar negeri. Tentu saja biaya untuk wisata seperti ini jauh lebih mahal daripada wisata lokal atau dalam negeri. Meskipun biayanya ditanggung bersama secara patungan, tetapi jatuhnya tentu lebih mahal. Anda juga terpaksa membeli beberapa kebutuhan pribadi di luar negeri yang harganya lebih mahal. Itu masih belum termasuk oleh-oleh untuk keluarga di rumah.

Selain itu, ada juga circle pertemanan yang mengadakan event atau party hampir di setiap weekend. Pool party, beach party, night party, dan berbagai macam party lainnya tentu saja menguras dompet Anda lebih banyak daripada jika hanya sekedar jalan-jalan di alun-alun atau taman kota.

Jika Anda tinggal di kota besar seperti Jakarta, mungkin Anda akan bertemu dengan circle pertemanan yang lebih toxic dan hedon dengan sifat yang membanding-bandingkan apa yang mereka punya dan apa yang Anda punya. Anda mungkin akan “dipaksa” untuk mengikuti gaya hidup mereka, seperti fashion yang branded dan barang-barang lainnya dengan merek tertentu.

Jebakan Psikologis dari Media Sosial Mengakibatkan Utang

Tidak semua yang kita baca atau lihat di media sosial itu sepenuhnya benar. Sebabnya, tidak ada yang mem-posting realita yang terjadi behind-the-scene. Hal ini membuat kita merasa tidak lebih baik dari orang lain, dan men-trigger rasa fear of missing out (FOMO) sehingga kita terdorong untuk terjun ke persaingan yang tidak sehat dan mengikuti gaya hidup yang seolah terlihat sempurna tersebut.

Misalnya, foto-foto pernikahan yang terlihat bahagia, indah, dan sempurna di-posting tanpa memperlihatkan debat dan kisruh yang mungkin terjadi di belakang layar. Foto-foto wisata dan healing yang bertebaran di media sosial di-posting tanpa menyinggung kartu kredit yang mungkin digunakan. Foto-foto shopping mewah juga di-posting tanpa men-tag orang tua, sugar daddy, atau sugar mommy yang mungkin mendanai shopping tersebut.

Pada akhirnya, kehidupan glamor dan mewah yang Anda lihat di media sosial mungkin adalah sebuah kepalsuan online. Media sosial memperlihatkan sebuah potret yang hanya akan mengkritik diri Anda sendiri dan memunculkan perasaan ketinggalan atau tidak sukses.

Lalu, Bagaimana Jika Sudah Terlanjur Terjebak?

1. Mengurangi Pengeluaran dan Menyusun Budget

Jika Anda seorang generasi milenial atau Gen Z, maka langkah pertama tentu saja mengurangi pengeluaran. Buatlah daftar apa saja yang telah Anda habiskan dalam sebulan terakhir dan tanyakan pada diri Anda sendiri: berapa banyak yang benar-benar Anda perlukan?

Selanjutnya, buatlah anggaran mingguan atau bulanan untuk diri sendiri. Kurangi biaya bulanan yang terlalu menguras dompet – seperti biaya kost/kontrakan atau cicilan rumah, produk kecantikan, biaya listrik, kuota internet, dan konsumsi makanan. Jika Anda tinggal di kost/kontrakan eksklusif, maka Anda bisa pindah ke kost/kontrakan yang lebih murah.

Selain itu, untuk sementara hentikan gaya hidup hedonisme seperti shopping, wisata, hangout, dll. Daripada makan di kafe atau restoran bergengsi dan menghabiskan uang ratusan ribu setiap weekend, Anda bisa menghematnya dengan makan di pusat kuliner yang lebih murah seperti pujasera. Atau, Anda juga bisa memasak makanan sendiri.

Sisa dari semua pengurangan tersebut minimal harus sesuai dengan tagihan bulanan Anda. Apabila Anda membutuhkan belanja atau healing, maka lakukanlah sehemat mungkin dan jangan mengambil utang baru.

2. Keluar dari Circle Pertemanan yang Hedon

Bagi sebagian orang, tips yang kedua ini lebih susah dilakukan daripada sekedar menyusun anggaran dan mengurangi pengeluaran. Tetapi keluar dari circle pertemanan bukan berarti memutus total hubungan yang sudah terjalin. Anda tetap bisa menjalin hubungan tapi cukup sekedar silaturahmi saja. Untuk alasannya, Anda bisa bilang kalau Anda sedang ingin fokus kuliah atau bekerja untuk mendapatkan promosi jabatan.

3. Butuh Lebih dari Sekedar Niat untuk Bebas dari Utang Akibat Media Sosial

Tidak banyak milenial dan Gen Z yang paham mengenai jalan keluar dari lilitan utang. Kalaupun sudah mengetahui teorinya, praktiknya tidak mudah untuk dilakukan.

Sama halnya dengan diet. Ada berbagai teori yang bisa Anda temukan di internet mengenai cara menurunkan berat badan. Tetapi pada praktiknya, hal itu susah dilakukan. Butuh lebih dari sekedar niat untuk mencapai berat badan ideal. Jika Anda bertanya kepada orang yang sudah pernah mencoba diet tetapi gagal, pasti mereka akan menjawab bahwa mereka sudah berniat dan mengupayakan yang terbaik.

Begitu juga dengan utang, Anda butuh lebih dari sekedar niat. Anda juga butuh lebih dari tips dan trik mengatur keuangan. Anda butuh bimbingan dan bantuan profesional, terutama jika Anda mempunyai lebih dari satu utang atau menunggak lebih dari 1 bulan.

Oleh karena itu, carilah bantuan profesional yang bisa memanajemen utang Anda. Di setiap hari dan jam kerja, amalan membuka Konsultasi Gratis bagi siapa pun yang memiliki masalah utang, baik Gen Z, milenial, maupun orang tua.

amalan adalah satu-satunya perusahaan manajemen utang di Indonesia yang tercatat di OJK. Sejak tahun 2016, kami telah membantu lebih dari 2000 kasus pelunasan utang dengan total lebih dari Rp50 milyar. Normalnya, klien amalan mendapatkan keringanan sebesar 51% dari total utang. Selain itu, amalan juga mempunyai layanan perlindungan dari penagihan yang dilakukan oleh debt collector tak beretika.

Penutup

Media sosial sejatinya adalah media untuk berbagi. Tetapi media sosial dapat menyebabkan Anda terjerat masalah utang ketika Anda menggunakannya sebagai media untuk kompetisi dan merasa tertekan untuk mengikuti gaya hidup mewah orang lain.

5 Ide Usaha Ramadan Anti Ribet & Minim Modal

Di bulan Ramadan ini, mungkin Anda ingin mencari pekerjaan sampingan agar bisa menambah pendapatan Anda untuk kebutuhan Ramadan dan Hari Raya. Nah di artikel ini, kami menyajikan 5 ide usaha Ramadan yang bisa Anda lakukan tanpa ribet dan minim modal.

Kok bisa minim modal? Karena Anda hanya perlu menggunakan peralatan rumah tangga yang sudah Anda punya. Dan meskipun usaha rumahan, Anda tetap bisa mendapatkan pemasukan yang besar selama bisa memasarkannya dengan baik.

Ide usaha rumahan ini cocok bagi Anda yang:

  1. Tidak ingin terlalu capek setelah seharian bekerja
  2. Bisa dikerjakan dari rumah
  3. Minim modal

Sudah tidak sabar? Yuk temukan inspirasi usaha rumahan Anda berikut ini!

1. Bisnis Dropship

Selain modalnya yang minim, dropship adalah usaha rumahan yang mudah untuk dijalankan. Cara kerjanya juga mudah, yaitu Anda menjual produk yang dibuat oleh pihak lain dengan harga jual yang Anda tetapkan sendiri. Nantinya, produsen tersebut yang akan mengirimkan barang.

Agar usaha Anda laku dan tidak kalah saing harga dengan produsen, Anda bisa memasarkannya ke orang-orang atau area yang tidak terjangkau oleh produsen tersebut. Misalnya tetangga kanan-kiri Anda, keluarga Anda di kampung, atau teman-teman di kantor.

Selain itu Anda juga bisa menjualnya melalui media sosial atau marketplace. Dengan berjualan secara online, Anda juga bisa mencoba menjualnya ke luar negeri.

2. Jual Beli Barang Bekas

Selain dropship, menjual barang bekas juga ide bisnis tanpa modal yang menjanjikan. Apalagi, kalau yang Anda jual itu unik atau masih bisa dipakai. Selain itu, Anda juga bisa menjual barang bekas milik Anda sendiri maupun orang lain.

Ada berbagai macam barang bekas yang bisa dijual dan bernilai tinggi. Misalnya baju, mesin cuci, kulkas, handphone, laptop, televisi, sepeda motor, mobil, dll.

3. Agen Pulsa & Pembayaran Online

Menjadi agen pulsa online lebih praktis daripada menyewa kios sendiri. Selain modalnya lebih kecil, Anda tidak perlu duduk seharian menjaga counter. Jadi, ide bisnis rumahan ini cocok sebagai usaha sampingan.

Untuk memulainya, Anda cukup mencari distributor pulsa yang berkualitas. Mulai dari pelayanan customer service, durasi mengirim pulsa, dan harga pulsa yang ditawarkan. Dengan demikian, kepuasan pelanggan Anda juga terjamin.

Selain itu, masih banyak loh orang yang belum paham kalau pembayaran utilitas seperti listrik, token listrik, PAM, BPJS, dll, bisa dilakukan secara online. Bahkan untuk yang satu ini, Anda tidak perlu mencari distributor. Anda cukup meng-install aplikasi digital yang memungkinkan semua pembayaran di atas dengan biaya admin yang murah.

4. Laundry

Usaha yang satu ini cukup menggunakan mesin cuci dan setrika yang Anda punya. Apabila Anda terlalu capek untuk menyetrika setelah seharian bekerja, Anda bisa menggunakan jasa orang lain dengan sistem komisi, bagi hasil, atau upah per jam.

Bukan hanya laundry pakaian saja, jasa cuci sepatu, karpet, boneka, dan helm juga termasuk peluang usaha rumahan yang menjanjikan. Sepatu, karpet, boneka, dan helm adalah barang-barang yang digunakan banyak orang.

Untuk memulainya, Anda hanya perlu belajar cara merawat tipe kain, busa, pelapis dan bahan-bahan lainnya yang umumnya digunakan untuk membuat sepatu, karpet, boneka, dan helm.

Usaha laundry kiloan bisa menjadi ide bisnis rumahan yang menjanjikan. Terlebih jika Anda tinggal di daerah kota yang sibuk, seperti pusat perkantoran, area dekat kampus, dan perumahan.

5. Bergabung dengan Afiliasi

Ide usaha selanjutnya adalah afiliasi. Afiliasi berarti program yang memungkinkan Anda mendapat komisi setelah membuat orang lain membeli atau memakai suatu produk. Besaran komisinya beraneka ragam, tergantung perusahaan di mana Anda bergabung.

Salah satu opsi terbaik untuk mendapatkan penghasilan tambahan adalah MitraCekaja. Di situ Anda mendapatkan bayaran untuk membantu teman dan keluarga Anda menemukan produk keuangan terbaik bagi mereka.

Tapi, bagaimana caranya melakukan afiliasi?

Oleh penyedia program afiliasi, Anda akan diberikan media promosi seperti link unik, kode kupon, dsb, yang nantinya bisa diklik oleh calon customer. Anda juga bisa memanfaatkan media sosial untuk menjaring banyak orang.

Tips Agar Usaha Ramadan Minim Modal Anda Sukses

Tidak semua usaha membutuhkan modal yang besar, tapi agar sukses setiap usaha membutuhkan persiapan yang matang. Berikut ini tiga tips yang bisa Anda lakukan agar usaha rumahan Anda sukses.

1. Fokus Pada Minat dan Kemampuan Anda

Minat dan kemampuan adalah dua hal yang cukup berpengaruh bagi kesuksesan bisnis rumahan. Jadi ketahui dulu minat dan kemampuan Anda, lalu kerahkan fokus Anda di situ. 

Semakin Anda fokus pada minat dan kemampuan, Anda akan menjalankan bisnis dengan sepenuh hati. Hal ini sangat mempengaruhi produktivitas Anda dan semangat untuk pantang menyerah apabila bisnis sedang tidak berjalan dengan baik.

2. Pahami Potensi Pasar & Kompetitor Usaha Ramadan Minim Modal

Tips berikutnya adalah memahami potensi pasar. Anda wajib mencari tahu bagaimana persaingan ide bisnis yang sudah Anda pilih. Apabila pasar Anda lokal, maka cari tahu mengenai persaingan di level lokal. Begitu juga apabila pasar Anda di media sosial.

Cari tahu apakah produk Anda dibutuhkan target pasar, jenis-jenis promo dan layanan tambahan yang diminati pasar, serta keunggulan dan kelemahan kompetitor Anda.

Dengan memahami kondisi pasar, Anda mengetahui potensi keberhasilan bisnis dan risiko kegagalan produk di tengah jalan pun bisa diminimalisir.

3. Membuat Marketing Plan untuk Usaha Ramadan Minim Modal

Setelah memahami peluang usaha rumahan, buatlah perencanaan bisnis alias marketing plan. Marketing plan adalah sebuah rencana pemasaran untuk mencapai tujuan pada periode yang ditentukan. Dengan membuat marketing plan, Anda akan lebih mudah untuk menyusun strategi bisnis yang efektif.

#Ngabuburead – Debt: The First 5000 Years

Terlilit utang bisa membuat siapa saja stres dan merasa serba salah. Namun, bagaimanapun rumitnya kondisi finansial Anda saat ini, Anda tidak boleh hanya duduk diam dan menerima nasib. Sambil menunggu bedug buka puasa, Anda bisa membaca buku Debt: The First 5000 Years untuk membekali diri Anda dengan pengetahuan. Berikut kami berikan sedikit ringkasan tentang buku dan penulisnya.

Tentang Penulis DEBT: The First 5000 Years

David Graeber adalah seorang antropolog di London School of Economics. Beliau telah menulis sejarah besar mengenai utang-piutang serta perkembangan pasar dan uang. Dalam berbagai tulisan ilmiahnya, Graeber sering mengaitkan hal-hal ekonomi dengan perang, perbudakan, pajak, upeti, birokrasi pemerintah, pemikiran keagamaan, dan perdagangan lokal maupun internasional.

Selain itu, beliau juga sudah sering meneliti berbagai peradaban masyarakat. Mulai dari Mesopotamia kuno, India, Cina, Yunani dan Romawi kuno, Amerika Latin, Abad Pertengahan, dan Abad Modern.

Foto: David Graeber

Sumber: https://www.ft.com/content/225326f5-3128-4e55-bad7-5f9ba50ca4a8 

Buku terbarunya, DEBT: The First 5000 Years, membahas secara panjang lebar tentang keadaan ekonomi dan moral kita yang rusak. Ditulis dengan gaya yang menarik, buku ini juga menyelidiki sifat utang secara filosofis – dari mana asalnya dan bagaimana perkembangannya. Buku ini layak Anda baca karena memuat penelitian yang kompleks terhadap situasi utang yang terjadi masyarakat Mesopotamia kuno hingga Madagaskar tahun 1990-an.

Di buku DEBT: The First 5000 Years, Graeber tidak membahas utang dari sudut pandang ekonomi. Beliau juga memberikan perspektif antropologis dan arkeologis melalui bukti yang menjelaskan bagaimana budaya masa lalu menghadapi persoalan utang dan uang.

Selain itu, konsep-konsep yang terkandung dalam buku ini sangat mendasar. Misalnya, dari mana uang berasal, bagaimana utang digunakan untuk hal-hal yang baik dan jahat, dan apa pengaruhnya terhadap manusia dari zaman dulu hingga sekarang.

Sinopsis

Pertama, mari kita kembali ke pelajaran awal di ekonomi. Baik di sekolah maupun universitas, biasanya kita memulai dengan rangkuman singkat mengenai sejarah ekonomi manusia. Narasi umumnya adalah demikian: pada awal peradaban manusia, tidak ada uang atau alat tukar lainnya; oleh karena itu, manusia menerapkan sistem barter, di mana orang-orang berpartisipasi langsung dalam transaksi untuk berbagai jenis barang.

Buku-buku teks yang berasal dari Adam Smith sering memberikan contoh seperti seorang petani yang menukar dua kilo gandum dengan kambing milik petani lain. Di sini, kedua petani menerima barang dengan segera dan perdagangan tersebut dianggap menguntungkan kedua belah pihak.

Dari sini, kita selanjutnya belajar bahwa manusia menyadari betapa tidak efisiennya sistem barter seperti itu dan beralih menggunakan koin sebagai alat tukar, dan akhirnya menggunakan mata uang yang kita gunakan saat ini. Namun, Graeber berargumen dengan cukup meyakinkan bahwa teori itu tidak benar dan tidak didukung oleh bukti antropologis.

Utang Sudah Ada Sebelum Uang

Sumber gambar: https://www.pickpik.com/neanderthals-prehistoric-mountains-animals-landscape-people-68027 

Penelitian antropologi yang dilakukan Graeber membuktikan bahwa sistem utang pertama yang tercatat ditemukan di peradaban Sumer pada sekitar 3500 SM, jauh sebelum munculnya sistem mata uang koin sebagai alat hitung. Mata uang koin paling awal baru ditemukan sekitar 1100 SM. Lebih jauh lagi, Graeber berpendapat bahwa tidak ada bukti antropologis yang kuat untuk mendukung klaim bahwa ekonomi barter telah ada di masyarakat di negara manapun. 

Graeber kemudian meninjau bagaimana transaksi utang berdampak pada perkembangan ekonomi manusia, dan mengungkapkan bahwa utang pada awalnya terjadi dalam situasi dengan tingkat kepercayaan tinggi, yaitu pada masa manusia hidup berkelompok dan saling mengenal satu sama lain.

Graeber menggambarkan situasinya seperti berikut ini. Katakanlah salah satu anggota kelompok lapar dan membutuhkan makanan, lalu temannya meminjamkan makanan. Dalam hal ini manusia yang lapar tersebut sudah melakukan utang, dan akan membalasnya dengan cara yang akan menguntungkan temannya yang sudah meminjamkan makanan tersebut. Di masyarakat Indonesia, kita mengenal situasi ini sebagai utang budi.

Dengan demikian utang di zaman tersebut bukanlah sebuah situasi ekonomi atau komersil, tetapi sebuah relasi sosial yang terbentuk dari rasa saling tolong-menolong, tenggang rasa, dan solidaritas antara anggota kelompok.

Uang Muncul Untuk Mengkomersilkan Utang

Yap Stone, salah satu koin uang pertama yang dikenal manusia

Lalu bagaimana sistem mata uang muncul? Graeber menjabarkan dengan bukti antropologis bahwa uang muncul dari kekerasan yang dilakukan kerajaan. Teorinya adalah sebagai berikut: kerajaan-kerajaan awal dalam upaya mereka untuk mendapatkan lebih banyak tanah, budak, dan sumber daya, perlu membekali pasukan mereka dengan bekal yang besar. Kebutuhan bekal ini tidak dapat dicukupi oleh sistem utang budi yang disebutkan di atas. 

Ditambah lagi, setiap prajurit akan menuntut sesuatu yang berbeda sebagai imbalannya. Oleh karena itu, uang diciptakan untuk melambangkan dan menstandarkan utang yang harus dibayar kerajaan kepada para prajuritnya. Uang koin lalu menjadi sistem yang dominan digunakan hingga masa sekarang.

Namun, sebuah peperangan hanya dapat dimenangkan jika kerajaan tersebut mempunyai pasukan yang lebih baik dari musuhnya. Dengan demikian, kerajaan harus terus membekali pasukan mereka dengan lebih mahal dan lebih baik. Akibatnya, utang kerajaan terus bertambah.

Menurut Graeber, banyak dokumen yang menunjukkan bahwa peradaban kuno terperosok ke dalam utang. Di masa itu, cara kerajaan melunasi utangnya adalah dengan mengirimkan warga mereka menjadi budak yang akan bekerja di kerajaan pemenang dengan tanpa dibayar.

Sistem perluasan wilayah dengan peperangan, utang, dan perbudakan ini terus berlanjut hingga manusia tiba suatu masa di mana banyak kerajaan tidak mungkin dapat membayar utangnya lagi. Di masa itu, banyak kerajaan sepakat untuk memberlakukan Hukum Yobel yang menghapus semua utang setiap 50 tahun sekali.

Tanggapan Kritis dari Para Antropolog Dunia

Menurut para antropolog dunia, buku yang merupakan hasil penelitian Graeber ini berhasil menambal berbagai lubang yang tidak dapat dijelaskan oleh teori-teori ekonomi. Meskipun sebagian besar bertentangan dengan teori ekonomi, namun Graeber mendasarkan hipotesanya pada fakta-fakta sejarah yang berhasil ia kumpulkan. 

Para antropolog dunia juga mendukung pernyataan Graeber bahwa kita tidak bisa mengukur sisi moralitas dan sosial seorang manusia dari fakta apakah dia membayar utang atau tidak; karena pada zaman manusia masih hidup berkelompok, utang diberikan sebagai bentuk solidaritas dan tanpa ada harapan untuk kembali, apalagi mengeruk keuntungan dari utang tersebut.

Sistem dan definisi utang di zaman tersebut kemudian “dimaterialisasikan dan dikomersilkan” di zaman kerajaan karena kebutuhan mereka untuk membiayai pasukan perang agar dapat memperluas wilayah dan kekuasaan.

Penutup

Meskipun buku ini tidak akan banyak membantu Anda untuk melunasi utang, tetapi Anda dapat menambah pengetahuan mengenai sejarah awal terbentuknya utang di zaman peradaban kuno dan bagaimana utang menjadi sesuatu yang dikomersilkan di zaman sekarang. Jadi, yuk #Ngabuburead dengan membaca buku ini.

Referensi:

https://re-markasia.com/utang-5000-tahun-perjalanan/

https://sites.lsa.umich.edu/mje/2022/04/18/re-thinking-debt-and-the-origins-of-economies/

https://theanarchistlibrary.org/library/joseph-kay-thoughts-on-david-graeber-s-debt-the-first-5-000-years

https://en.wikipedia.org/wiki/Debt:_The_First_5000_Years

Graeber, David. Debt: The First 5000 Years. Melville House, 2011.